Aku yang Percaya Diri atau Aku harus Percaya Diri

270

(Cerita Inspiratif ini saya kumpulkan dari CERMIN HATI para frater Keuskupan Pangkalpinang).

Seorang pengembara yang pernah tersesat di hutan belantara bercerita kepada teman-temannya setelah ia selamat. Kata pengembara itu, Aku tersesat di hutan, dan dalam keadaan tersesat itu aku berlutut dan berdoa mohon pertolongan dari Tuhan.” Teman-temannya bertanya, Apakah doamu dikabulkan Tuhan?” Dia menjawab, ”tidak, tidak. Sebelum Tuhan memberi pertolongan, muncullah seorang penjelajah hutan belantara dan menunjukkan jalan kepadaku.”

Para sahabat terkasih,

Ketika kita melihat sesama kita yang optimis bahwa dia bisa menyelesaikan semua hal kita sering berceloteh “PD (Percaya Diri) Ngeri dia”. Apalagi orang tersebut memiliki kemampuan di bawah kita tentu kita mengganggap diri sepeleh terhadapnya. Padahal tanpa kita sadari bahwa ketika kita menganggap sepeleh kemampuan sesama kita sebenarnya kita juga sedang “PD ngeri”. Ungkapan “PD ngeri” bisa bermakna sebuah keyakinan yang menjadi motivasi bagi diri bahwa saya bisa untuk melakukan suatu hal. Namun ungkapan “PD ngeri” juga bisa bermakna ungkapan menganggap sepeleh dengan orang lain. Seseorang merasa diri paling hebat dan orang lain tidak ada artinya. Percaya diri yang berlebihan itu baik, namun jika sampai merendahkan orang lain itu tidak baik. Percaya diri yang berlebihan itu baik, namun jika sampai menganggap orang lain tidak berarti itu tidak baik. Bahkan berlebihan lagi kalau kita sampai beranggapan bahwa semua yang kita peroleh adalah karena usaha kita semata. Kita tidak mengakui orang lain bahkan Tuhan turut bercampur tangan di dalamnya.

Para sahabat terkasih,

Dalam praksis hidup, kita terkadang seperti orang yang tersesat itu. Dikatakan bahwa kita seorang pendoa dan orang yang beriman, namun tidak mau mengakui bahwa segala sesuatu yang diterima berasal dari Tuhan. Justru kita mengklaim diri bahwa semua itu berkat usaha sendiri. Sesungguhnya Tuhan lebih cepat dari pada harapan kita, karena Dia tidak pernah meninggalkan kita, walaupun dalam situasi sulit dan membahayakan. “Kita PD ngeri na.”, begitulah celoteh orang Sumba Timur. Begitulah kalau dalam hidup bersama dengan orang lain, janganlah “kita PD ngeri na” tapi “kita harus percaya diri.”

“Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannyakepada Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit, maka hal itu akan diberika kepada-Nya (Yakobus, 1:5)”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here