Allah Menenun Kisah Kemuliaan-Nya dalam Penderitaan

127

Minggu Paskah VII tahun A, 24 Mei 2020.

Hari Komunikasi Sosial Sedunia Ke- 54.

Hidup Menjadi Cerita: “Supaya Engkau dapat Menceritakan kepada Anak Cucumu” (Kel.10: 2)

 

Bc. I. Kis. 1: 12-14

Bc. II. Kis. 1Ptr. 4: 13-16

Injil. Yohanes 17: 1-11a

Pe. Eureka, L. Raymond, SVD

 

Injil pada hari Minggu Paskah VII tahun A hari ini diambil dari “Doa Yesus untuk Murid-murid-Nya” pada perjamuan malam terakhir – suatu kisah yang menggemakan sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus sebagai misteri iman kita. Ia (Injil) menjadi menarik oleh karena ditempatkan pada penghujung masa Paskah; kemuliaan Kristus sebagai Anak Allah yang dibangkitkan dari alam maut, yang telah menuntaskan tugasnya dan telah naik ke surga, untuk mempersiapkan tempat bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya dan agar setiap orang yang percaya pada-Nya, berkat Roh Kudus yang nantinya akan dicurahkan oleh-Nya, kembali melanjutkan karya pewartaan kabar gembira bagi dunia. Sesuatu yang terkesan kontradiktif namun menggoreskan kedalaman teologis akan arti penting dari memori penebusan Allah dalam korban salib dan kebangkitan Putera-Nya, bahwasanya karya keselamatan Allah tidak berakhir pada kebangkitan Kristus hingga sebegitu mudahnya kurban salib dihapus. Kebangkitan dan kenaikan, bahkan salib itu sendiri pun akan nihil makna apabila Kristus tak bergelatung dan wafat pada palang penghinaan itu, dan sebaliknya salib hanyalah sebuah salib, simbol kehinaan jika tanpa kebangkitan Kristus sebagai puncak karya keselamatan Allah. Sebab demikianlah rasul Paulus berkata; “Jika Kristus tidak dibangkitkan maka sia-sialah kepercayaan kamu…” (1Kor. 15:17).

Menyikapi tema Hari Komunikasi Sosial Sedunia dalam tajuk; Hidup Menjadi Cerita: “Supaya Engkau dapat Menceritakan kepada Anak Cucumu” (Kel.10: 2), maka adalah wajib menelisik “Doa Yesus untuk Murid-murid-Nya” sebagai bagian dari kabar sukacita yang tidak hanya bersifat “informatif” melainkan juga “performatif” (Bdk. Ensiklik Benediktus XVI; Spe Salvi. 2), yang berarti bahwa Injil tidak hanya pemberitahuan hal-hal yang diketahui tetapi juga yang mendatangkan kenyataan dan mengubah kehidupan. Rasanya mungkin tak memuaskan bila sepintas dikata bahwa oleh karena Injil berarti kabar sukacita, maka perokip Yohanes 17: 1-11a juga tercakup di dalamnya, sedangkan “doa Yesus” tersebut terpatri pada peristiwa sebelum Yesus bergulat dalam sakratul maut di taman Getsemani. Dalam hal ini, ada dua hal yang patut dipahami. Pertama; Konteks peristiwa perjamuan malam terakhir, jatuh pada hari pertama dari hari raya roti tak beragi, 14 Nisan, dalam kalender Yahudi, sesuai peraturan hukum taurat dalam Keluaran 12:18; “Dalam bulan pertama pada hari keempat belas bulan itu, pada waktu petang, kamu makanlah roti tak beragi sampai kepada hari yang kedua puluh satu bulan itu pada waktu petang”, atau yang disebut juga dengan “hari persiapan”. Ini adalah memoria pembebasan, memoria keselamatan Israel dari perbudakan Mesir. Suatu momentum penuh kasih setia di mana Allah menyejarah dalam kehidupan manusia. Oleh karena ingatan Allah, maka anak-anak Israel diselamatkan. Mengingat kembali janji yang pernah diucapkan-Nya pada Abraham, Ishak dan Yakub, Allah tergerak oleh kasih setia-Nya untuk membebaskan umat-Nya. Dengan demikian memoria keselamatan bangsa Israel adalah kenangan akan kabar gembira. Dalam pada itu, perjamuan malam terakhir dari sudut pandang Penginjil Yohanes bukanlah suatu perjamuan perpisahan, penuh dukacita Kristus yang sebentar lagi hendak menyongsong kematian, melainkan suatu perjamuan sukacita, penuh kebahagiaan dan kasih persaudaraan serta keakraban. Kedua; bahwa Injil Yohanes, sebagai bagian yang terpisah dari ketiga Injil sinoptik, memiliki keunikannya tersendiri dalam menyajikan kisah sengsara Yesus. Dengan cara yang khas, Yohanes menggambarkan pribadi Yesus yang “tidak menderita” dalam kesengsaraan hingga wafat-Nya di Salib. Beranjak dari peristiwa pembasuhan kaki hingga peristiwa penyaliban-Nya, Yohanes mendeskripsikan Yesus yang sebegitu komunikatif, sampai akhir hayat masih sesempat mungkin berdialog bersama murid yang dikasihi-Nya ketika Ia menyerahkan Maria Ibu-Nya kepadanya, suatu simbol legitimasif di mana Maria menjadi Ibu Gereja. Dari sini, akhirnya kita dihantar untuk memahami salah satu point penting yang termaktub dalam doa-Nya; “Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau”. Dalam dimensi informatif, “Doa Yesus” melukiskan suatu bentuk komunikasi positif antara Bapa dan Anak sembari mempertegas kesatuan yang tak terpisahkan antara keduanya yang terungkap dalam perkataan Yesus sendiri; “Segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku…”. Sementara itu dalam dimensi performatif, “Doa Yesus” kepada Bapa-Nya merubah realitas penderitaan sebagai dukacita, menjadi actus permuliaan Allah yang pada akhirnya merubah para murid untuk mewartakan karya keselamatan Allah dalam penderitaan, wafat dan kebangkitan sebagai Kabar Gembira.

katolikzone.com
(Gambar : parokistpaulusdepok.org)

Bagaimana memahami penderitaan Kristus sebagai bagian dari permuliaan Allah? Permohonan Yesus kepada Bapa-Nya untuk dimuliakan dan sekaligus memuliakan Bapa, tidak berarti meminta agar Bapa menghindarkan penderitaan yang akan ditanggungkan pada-Nya. Ia telah siap menderita! Permohonan ini justru menginginkan agar Yang Mahakuasa membiarkan diri-Nya mengalami jerih payah kurban salib hingga wafat, hingga tuntas. Ingatlah bahwa hati seorang bapa tentu tak sebegitu teganya membiarkan anak yang dikasihinya direndahkan martabatnya bahkan sampai wafat dengan hina. Ada kegelisahan manusiawi yang dicemaskan Yesus jikalau Bapa tak kuasa menahan amarah melihat anak- Nya dihancurkan oleh lawan-lawan-Nya. Dengan memohon kepada Bapa agar Anak dipermuliakan dan Anak mempermuliakan Bapa, Yesus hendak menunjukkan bahwa sesungguhnya yang ilahi tak segan mendekati dunia sekali pun dunia telah menyingkirkan-Nya. Inilah kasih yang menjadi inti kebesaran ilahi. Inilah Kabar Gembira, bahwa dalam penderitaan, Allah senantiasa menunjukkan Cinta- Nya. Tugas mempermuliakan Allah tidak selesai pada Yesus kendati Ia telah terangkat ke Surga. Menyadari hal tersebut, sebelum menuntaskan tugasn-Nya, Ia pun memohon hal yang sama kepada Bapa untuk tidak hanya melindungi dan membimbing para murid, tetapi “Supaya mereka menjadi satu sama seperti kita”. “Menjadi satu sama seperti kita” berarti bersiap sedia melanjutkan tugas pewartaan Kabar Gembira meski di tengah penderitaan hidup yang tengah melanda dunia. Ingatlah bahwa Allah memanggil kita bukan untuk masuk dalam sebuah perjamuan pesta melainkan untuk memikul salib dengan sukacita. Dan agar orang sanggup memikul salib dengan suka cita, seorang berima patut mendasarkan sikap hidupnya dalam doa seperti Kristus yang juga berdoa kepada Bapa-Nya. Sebagai titik sentral perjumpaan kita dengan Allah, doa menjadi sarana komunikasi antara kita dengan Allah. Hanya dalam doa, kita sanggup merasakan kehadiran Allah secara penuh sekaligus memahami kehendak-Nya dalam kehidupan kita. Karya nyata kita hendaklah mengalir dalam pengalaman doa dan doa hendaklah berubah dalam tindakan nyata. Hal ini memungkinkan pengalaman hidup kita menjadi utuh dan sempurna. Sehingga, orang yang tidak pernah berdoa, tak akan pernah merasakan kehadiran dan memahami kehendak Allah dalam kehidupannya. Karya pewartaan Kabar Gembira dalam tutur kata dan tindakan hidup kita sebagai orang beriman merupakan suatu upaya komunikatif dalam mana Allah yang menyejarah dalam pengalaman hidup manusia sejak kisah penciptaan manusia pertama hingga kelahiran Adam baru dalam diri Kristus tetap dituturkan kepada anak cucu kita. Artinya Allah memakai kita sebagai penutur kisah keselamatan-Nya.

Saudari dan saudaraku yang terkasih… bumi tempat di mana kita berdiam kini sedang dalam situasi yang tidak kondusif. Covid-19 sebagai pandemia telah meluluhlantahkan kesejahteraan hidup manusia di pelbagai bidang kehidupan tidak hanya pada bidang kesehatan. Tingginya mortalitas yang terjadi secara masif oleh Covid-19, mengakibatkan lumpuhnya pula roda perekonomian, ketidakstabilan situasi politik dan meningkatnya kasus kriminal di pelbagai negara. Di Angola, negara di belahan benua Afrika barat, tempat kami para Verbitas berkarya, juga terkena dampaknya. Lebarnya jurang kemapanan hidup antara yang miskin dan kaya di negara ini, kian tergerus ketika Covid-19 melanda. Perintah untuk stay at home yang digalakan pemerintah tidak berjalan efektif oleh karena tidak ada suatu hal yang menjamin bahwa setiap keluarga, terlebih bagi mereka yang berkekurangan secara materi tetap akan baik-baik saja selama masa karantina pribadi. Pemutusan Hubungan Kerja massal yang terjadi, membuat orang harus “keluar” dari rumah untuk mencari sesuatu yang bisa mengenyangkan perut dan bahkan sampai harus menghalalkan segala cara untuk memperolehnya. Maka tak heran bila kasus pencurian terasa meningkat akhir-akhir ini. Mengapa? Karena orang lapar! Hal tersebut tentu memampang suatu realitas penderitaan publik, yang justru mendesak kita untuk lebih peka terhadap sesama yang membutuhkan uluran tangan kita. Paroki Santa Madalena (Magdalena), tempat di mana kami bekerja, kondisinya pun tak ubahnya dengan paroki lainnya pula. Kurang lebih telah dua bulan lamanya, sejak pemerintah menetapkan estado de emergência, kami tidak lagi merayakan misa bersama umat atau pelbagai bentuk kegiatan gerejani lainnya. Kendati demikian, pewartaan Kabar Gembira harus tetap digalakan. Kami sadar bahwa Paroki tempat kami bekerja, bukan tergolong paroki yang mapan secara finansial. Letaknya yang tepat berada di salah satu pemukiman kumuh Kab. Cazenga, Keuskupan Viana, wilayah di mana berkumpulnya para pengungsi korban perang saudara selama kurang lebih 27 tahun pasca kemerdekaan negara dari kolonisasi Portugis, menjelaskan secara galib bahwa taraf kehidupan ekonomi umat berada di bawah garis kemiskinan. Untuk itu, sebagai salah satu upaya meringankan penderitaan hidup mereka, dalam kerjasama dengan Caritas di Keuskupan Viana, kami mendistribusikan sembako kepada sekelompok keluarga yang tergolong dalam situasi yang sangat memprihatikan yang tentunya tanpa lupa memperhatikan protokol kesehatan guna mengantisipasi penyebaran Covid-19. Hal menarik yang terjadi adalah setelah distribusi sembako itu dilakukan, beberapa umat yang melihat hal tersebut akhirnya tergerak hati untuk turut serta memberi meskipun dari kekurangan mereka. Atas inisiatif pribadi, mereka mulai berkomunikasi di antara mereka untuk menyumbangkan bahan makanan seperti ubi, dan sayur seadanya ke Paroki dengan maksud untuk dibagi pula kepada mereka yang lebih membutuhkan. Tak hanya sebatas itu, sebagian umat malah mengumpulkan uang lalu membeli dua paket “ikan beku” (satu paket berkisar 50 ekor ikan) yang semata-mata disumbangkan bagi paroki untuk dikonsumsi sehari-hari. Ada arus timbal balik yang terjadi. Kami membantu dan kami dibantu. Hal lain pula yang kami lakukan, tanpa harus berkomunikasi secara langsung, kami tetap membuka pintu gerbang Gereja dalam jangka waktu tertentu setiap harinya bagi segelintir umat yang saban harinya bekerja memenuhi kebutuhan hidup hanya dengan mengolah lahan pekarangan paroki yang tergolong cukup luas dengan membuka kebun guna menanam sayur- sayuran. Menariknya bahwa setelah memetik hasil panenan kebun yang nantinya dijual untuk membeli bahan makanan lainnya, selalu ada saja di antara mereka, yang sebelum kembali ke rumah, menyisihkan beberapa hasil kebun mereka dan meletakannya di depan pintu Gereja dengan pesan yang tertulis pada secarik kertas yang berisikan sepenggal doa, agar Allah senantiasa mendampingi mereka dalam situasi sulit dan agar hasil panenan mereka ini, yang meskipun tergolong sedikit, bisa digunakan oleh mereka yang lebih membutuhkan. Bahkan di antara mereka ada yang masih sempatnya menyisihkan beberapa recehan koin di depan pintu Gereja.

Hal-hal ini mungkin terlihat sederhana, namun dari situ kita belajar tentang bagaimana meneguhkan iman mereka yang terjebak dalam problem kehidupan; yakni bahwa Allah senantiasa berkomunikasi dengan umat-Nya bahkan dalam penderitaan. Apa yang terjadi adalah sebuah kisah di mana Allah menenun karya keselamatan-Nya yang tidak hanya terkungkung dalam masa lampau tetapi tetap aktual sampai saat ini dan tetap harus diceritakan kepada anak-cucu kita tidak hanya dalam perkataan tetapi juga dalam tindakan untuk membuktikan bahwa Tuhan itu ada dan tetap mendampingi kita baik dalam suka maupun duka. Salam…

 

Pe. Eureka, L. Raymond, SVD

Kini bekerja sebagai missionaris di Provinsi SVD Angola – Afrika Barat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here