Ibadat Perkawinan di Hadapan Pastor dan Pendeta

450

Ibadat Perkawinan di Hadapan Pastor dan Pendeta, katolikzone.com –Tulisan ini adalah kiriman dari salah satu kenalan Tim katolikzone.com

katolikzone.com
Wawan, Penyuluh Agama Katolik di Kantor Kementerian Agama Kab. Asahan Kanwil Sumatera Utara (Foto: Dok. Pribadi)

Teman kita ini bernama: Alb Irawan Dwiatmaja, biasa dipanggil Wawan. Lulusan Fakultas Filsafat Universitas Katolik St. Thomas Sumatera Utara. Sejak Agustus 2017, menjadi Mahasiswa Program Magister Filsafat Keilahian Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Saat ini bertugas sebagai Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kab. Asahan Kanwil Sumatera Utara.

Suatu kali, saya memposting foto pemberkatan perkawinan antara pasangan yang beda gereja. Pemberkatan mereka diadakan di hadapan Pendeta dan Pastor. Saya tidak menyangka kalau foto tersebut menimbulkan banyak reaksi dan tanggapan dari netizen yang tentunya inti dari semua pertanyaan itu, apakah bisa demikian? Seandainya bisa, bagaimana caranya?

Dalam foto itu, seorang wanita Katolik ingin menikah dengan seorang laki-laki dari Gereja Kristen (GKJ). Si wanita masih ingin tetap menjadi warga Gereja Katolik dengan segala hak dan kewajibannya. Mereka ingin perkawinan dilakukan di Gereja GKJ (tidak di Gereja Katolik). Bisakah perkawinan demikian di laksanakan?

Perspektif KHK (Kitab Hukum Kanonik): Perkawinan campur tidak diperbolehkan jika dilakukan tanpa izin otoritas Gereja. Izin diberikan kalau si pihak Katolik berjanji berjuang untuk tetap Katolik, membaptis dan mendidik anak-anak secara Katolik; dan pihak yang non-Katolik mengetahui akan janji ini. Nah, Gereja Katolik peka soal keberagaman, di mana orang-orang Katolik hidup berdampingan dengan non-Katolik. Selain itu, semangat ekumene Gereja Katolik ingin merangkul dan bekerja sama dengan pihak-pihak Kristen lainnya, serta kesadaran akan kebebasan beragama telah mendorong Gereja Katolik sampai pada pemahaman akan realita terjadinya perkawinan campur Beda Gereja (Mixta Religio).

Kasus foto yang saya posting merupakan “perkawinan ekumenis”: Perkawinan campur Beda Gereja (Baptis Katolik menikah dengan baptis non-Katolik). Perkawinan ini harus membutuhkan izin dari ordinaris wilayah: Bapa Uskup/Vikep lewat pastor paroki pihak Katolik. Kedua calon ini wajib melengkapi persyaratan administratif termasuk wajib hadir dalam Katekese Persiapan Perkawinan.

katolikzone.com
Contoh Pengukuhan Nikah beda Gereja (Gambar: Dok. Pribadi)

Perkawinan ekumenis dilayani pastor dan pendeta. Maka perlu disepakati pembagian tugas yang jelas antara Pastor dan Pendeta, misalnya Firman dan homili diserahkan kepada Pendeta, sedangkan pelaksanaan tata peneguhan Katolik dipercayakan kepada Pastor, demi sahnya perkawinan. Dalam kasus yang menanyakan kesepakatan bukan pastor, diperlukan dispensasi forma canonica. Perkawinan ini merupakan perkawinan yang sah sehingga pihak Katolik menerima surat nikah (Testimonium Matrimonii) dan dicatat di buku paroki.

Beberapa catatan:

Pedoman Perayaan Litirgis Perkawinan Ekumenis

KHK123.3 Melarang sebelum atau sesudah peneguhan diadakan perayaan keagamaan lain untuk menyatakan/membaharui consensus.

KHK 1118.1 Perkawinan antara orang-orang Katolik atau antara pihak Katolik dan pihak yang dibaptis bukan Katolik hendaknya dirayakan di Gereja Paroki; dapat dilangsungkan di gereja atau ruang doa lain dengan izin ordinaries wilayah/pastor paroki.

1118.2 Ordinaris wilayah dapat mengizinkan perkawinan dirayakan di tempat yang layak.

1118.3 Perkawinan antara pihak Katolik dan pihak yang tidak dibaptis dapat dirayakan di Gereja atau di tempat lain yang layak.

Kanon ini memberi kemungkinan untuk meminta izin diberkatinya suatu pernikahan di tempat lain yang bukan Gereja Katolik, misalnya di suatu gereja Kristen lain, dengan diberkati bersama pendeta dan kesepakatan nikah ditanyakan oleh seorang pastor Katolik. Tentang kemungkinan ini, izin bisa dimintakan pada pastor paroki saja.

(Katekese ini dirangkum dari Instagram Romo Surya Awangga, SJ dan Buku Ajar Kuliah Perkawinan Mgr. Dr. Robertus Rubiyatmoko, Uskup Agung Semarang)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here