Karena Aku Kau Cinta

160

katolikzone.com – Mengetahui bahwa diri kita dicintai, entah oleh orang tua, saudara-saudari kita, oleh kekasih atau oleh orang-orang terdekat kita, tentu membangkitkan kegembiraan dan kebahagiaan yang luar biasa. Apalagi jika yang mengasihi kita adalah Tuhan sendiri. Tentu kita sangat gembira dan bahagia.

Menurut para pujangga, saat merasakan ‘ekstasi’ karena kita dicintai, saat itu, kita tidak bisa berkata apa-apa. Hanya diam. Diam yang menggetarkan. Diam yang mendebarkan. Kata-kata tak mampu mengungkapkan kebahagiaan kita, sementara luapan emosi di dalam dada terus bergelora. Akhirnya yang tercipta adalah diam yang menggetarkan. Diam yang mendebarkan.

Orang-orang beriman Katolik yang telah menerima Roh Kudus, akan menjadi bait Roh Kudus itu dan Roh Kudus ada dalam dirinya. Dalam Surat Paulus yang pertama kepada Jemaat di Korintus dikatakan bahwa “Tak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam dirimu?” (1 Kor. 3:16; 6:19). Di mana ada Roh Kudus, di situ ada pula Bapa dan Putera. Allah hadir pada pusat ada kita, pada bagian terdalam lubuk jiwa kita.

Allah yang hadir dalam inti terdalam hidup kita, memampukan kita untuk merasakan bahwa kita Dicintai oleh Allah. Santa Teresia dari Avila, salah satu Pujangga Gereja, dalam suatu penglihatan melihat jiwa manusia sebagai suatu istana kristal yang sangat indah. Istana itu dibagi menjadi tujuh ruangan utama dan tiap ruangan masih ada kamar-kamarnya lagi, di ruang tengah yang menjadi pusatnya bertahtalah Sang Raja, yaitu Allah sendiri. Kemuliaan Allah menerangi seluruh ruangan itu yang menjadi terang oleh cahaya kemuliaanNya. Di ruangan pusat semuanya terang-benderang, tetapi semakin jauh dari pusat semakin redup, kerena cahaya terhalang oleh tirai-tirai atau dinding-dinding yang menggambarkan segala bentuk kelekatan yang mengikat jiwa dan menjadikannya tidak bebas. Semakin besar kelekatannya, semakin ia menghalangi cahaya masuk. Di luar istana segalanya gelap gulita. Itulah gambaran mereka yang berada dalam keadaan dosa berat. Jalan masuk satu-satunya ke istana itu sampai ke ruang pusatnya adalah doa batin beserta segala persyaratannya, seperti pertobatan, penyangkalan diri, kelepasan dan lain-lain.

Mengetahui diri kita dicintai, memampukan kita untuk mencintai sesama, seperti Cinta Allah kepada kita. Mari kita menjaga agar ruang hati kita tetap bercahaya karena diterangi oleh cahaya Kemuliaan Allah. Di hadapan cinta yang mulia, kita diam. Diam yang mendebarkan. Barangkali itulah yang mendasari terciptanya lagu Karena Aku Kau Cinta. Salah satu Kidung Ekaristi dari Paroki Kota Baru, Yogyakarta. Bila Anda pernah mendengar lagu ini, mari kita nyanyikan Bersama. Jika Anda belum pernah mendengarnya, dengarkan pada link yang ada di bawah ini, setalah itu, mari kita nyanyikan Bersama.

katolikzone.com

Bernyanyi bersama, cara kami menjaga hati tetap terarah kepada Tuha di tengah situasi Covid-19 (dok. pribadi)

 

KARENA AKU KAU CINTA

(Kidung Ekaristi Kota Baru 078)

1=D, 4/4

Lagu: C Soeliandari Retno | Syair: Y.R Widadaprayitna, SJ

Arsm: Bayu Nerviadi C.C

1

Tiada nada, tiada suara,

mampu mengungkapkan rasa bahagia tak terkira.

Tiada sungai, tiada samudra,

mampu tandingi agung cintaMu,

lembut hatiMu ubah hidupku.

Ref:

HadirMu dalam lubuk hatiku,

‘tuk mencintaiku dengan segenap kasihMu.

Kubahagia s’lalu bersamaMu Yesus,

karena aku Kaucinta.

2

Tiada lembah, tiada bukit,

kan menghalangi langkahku menyambut kasihMu.

Tiada bimbang, tiada ragu,

tak ingin aku jauh dariMu,

kuingin hidup bagiMu Yesus.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here