Kecil Tetapi Berharga

107

Sahabat Katolikzone yang terkasih, terkadang dalam hidup kita seringkali melihat segala sesuatu yang besar, seperti kebesaran suksesnya seseorang, besar dan mewahnya kendaraan yang dibawa oleh teman, besarnya kemapanan hidup seseorang. Tapi… sadarkah? bahwa terkadang, pembelajaran terbesar datang dari yang kecil.

Perumpamaan tentang biji sesawi dan ragi pastinya membantu pemahaman kita tentang hal-hal kecil dan sederhana yang kita lakukan dapat menghasilkan buah yang besar. Melalui perumpamaan tentang biji sesawi, Yesus menekankan perbedaan antara kecilnya biji dan besarnya sayuran: ”Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar daripada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon….” (Mat. 13:32). Pertanyaan yang mungkin muncul dalam pikiran para pendengar-Nya adalah: Siapa yang memungkinkan pertumbuhan sesawi yang menakjubkan itu? Yesus hendak menegaskan bahwa kalau Allah meraja atau menegakkan kuasa-Nya, maka situasinya akan serupa dengan biji sesawi yang ditaburkan orang di ladang, bertumbuh dan hasil akhirnya sesawi itu lebih besar daripada sayuran yang lain.

Biji sesawi adalah benih yang kecil dengan diameter rata-rata 1 milimeter dan dapat tumbuh mencapai 3 meter. Biji sesawi saat ini lebih dikenal dengan nama “Biji Moster”, yang digunakan sebagai rempah-rempah dan bahan makanan. Rempah ini memiliki rasa agak pedas dan agak menyengat di lidah dan langit-langit mulut yang agak mirip dengan wasabi (makanan dari Jepang). Moster telah lama menjadi penyedap dalam khazanah tata boga Eropa. Matius menegaskan kontras antara kecilnya biji moster dengan pertumbuhannya yang tidak terduga. Burung-burung tertarik pada pohon moster dan hinggap padanya, sebab selain memberi naungan, pada pohon moster/sesawi terdapat sejenis buah.

Kerajaan Allah ditabur ke dalam dunia seperti benih yang sangat kecil. Biasanya yang kita harapkan dari sebuah benih kecil adalah tanaman yang kecil. Lain halnya dengan benih sesawi ini, yang akan kita dapatkan ialah tanaman besar yang akan berkembang menjadi sebuah pohon. Meski ini sejenis rumput atau sayuran, namun ia bertumbuh dengan cepat menjadi seukuran dengan pohon yang besar; hal ini memberi kita gambaran pada semacam sumber kehidupan yang terkandung di dalam bijian sekecil itu. Yesus berkata, “Bahkan burung-burung di udara membuat sarang di pohon itu, dan tinggal di cabang-cabangnya”. Seperti itulah hal kerajaan Allah dapat diumpamakan oleh biji sesawi dan bagaimana caranya bertumbuh. Melalui gambaran ini, Yesus secara langsung membawa kita pada Perjanjian Lama, di Yehezkiel 31:3-14 dan Daniel 4:7-9, Kerajaan dunia diibaratkan sebagai pohon yang sangat besar di mana burung-burung di udara akan membuat sarang, dan segala binatang hutan bernaung dibawahnya.

Demikian pula, “Hal Kerajaan Surga seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya” (Mat. 13:33). Seorang wanita mengambil sedikit ragi, mencampurnya dengan sejumlah besar tepung (3 sukat = 30 Kg), dan membakarnya menjadi roti. Tanpa dicampur dengan ragi, tepung tetaplah sebagai tepung. Ketika ragi dimasukan ke dalam tepung, ragi itu akan meresap ke dalam seluruh adonan. Cara ragi bekerja tidak dapat dilihat dengan mata, tetapi pengaruhnya dapat dilihat. Jumlah ragi sedikit, tetapi pengaruhnya besar. Demikianlah cara Kerajaan Allah menyatakan kehadiran dan kekuasaan-Nya di dunia saat ini dan dalam diri kita masing-masing. Ragi adalah lambang kuasa Allah yang berkarya dalam diri setiap manusia dan mengubah manusia dari dalam. Kerajaan Allah menghasilkan sebuah transformasi dalam diri orang yang menerima hidup baru yang diberikan oleh Yesus Kristus. Ketika kita menyerahkan hidup kita kepada Yesus Kristus dan membiarkan sabda-Nya berakar dalam hati kita, kita diubah dan dikuduskan oleh daya Roh Kudus yang bersemayam di dalam diri kita.

Perumpamaan tentang biji sesawi dan ragi membantu kita untuk memahami bagaimana sesungguhnya Allah hadir dan berkarya dalam hidup kita setiap saat. Kita diyakinkan bahwa jika kita menerima benih Kerajaan Allah dalam hati kita, benih Kerajaan Allah itu akan tumbuh dan berkembang dalam diri kita. Kita diyakinkan pula bahwa Allah menyertai kita dan bekerja dengan cara yang tak kelihatan.

Benih kerajaan Allah nampak dalam hal-hal kecil dan sederhana. Menyapa, Senyum, Sabar, Meminta maaf dan memafkan, bersyukur dan berterima kasih, ikut memberikan komentar di Whats App group, dan melakukan tugas sesuai tugas dan fungsi meskipun hanya sebagai tenaga honorer serta hal-hal kecil lainnya yang tidak kita sadari pengaruhnya.

Rahmat Allah memang tidak tampak di depan mata kita, tetapi kuasa rahmat-Nya membuat hidup kita terus berkembang dan bermakna bagi orang lain.

Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi kita untuk merasa kecil dan merasa tak berguna dalam kehidupan ini. Tak ada alasan bagi kita untuk merasa sebagai minoritas yang tak ada manfaat atau pengaruh dalam kehidupan bermasyarakat. Ketika kita membiarkan benih Sabda Allah tertanam dalam hati kita dan membiarkan diri kita dirasuki oleh Roh Kudus, kehidupan spiritual kita bertumbuh dan berkembang serta berguna bagi kesejahteraan dan keselamatan sesama kita. Marilah kita membiarkan diri untuk tumbuh dan berkembang dalam kuasa Allah yang senantiasa hadir dalam hidup kita.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here