Maria Tertidur Abadi (Dormation Abbey)

259

Maria Tertidur Abadi, Katolikzone.com – Tulisan ini adalah kiriman dari RD. Dus Bone, Pastor Rekan di Paroki St. Fransiskus Asisi Kolhua – Kupang. Kisah yang dibagikan ini adalah salah satu kenangan dan sari refleksinya saat berziarah ke tanah suci, Yerusalem.

Katolikzone.com
RD. Dus Bone (Paroki St. Fransiskus Asisi Kolhua – Kupang)

Gereja Maria Tertidur Abadi atau dikenal dengan nama Dormation Abbey, terletak di bukit Zion, tidak jauh dari Ruang Perjamuan Terakhir atau Senakel.

Senakel dihormati oleh seluruh umat Kristen, sebab di situlah Yesus mengadakan Perjamuan Terakhir bersama para murid-Nya sebelum dikhianati oleh Yudas Iskariot.   Hanya saja ruangan ini telah dihancurkan pada masa pendudukan Islam pada tahun 1187 dan ruangan ini dirubah menjadi Masjid.  Tak ada yang tersisa dari Senakel itu.

Katolikzone.com
RD. Dus Bone saat mengunjungi Gereja Dormation Abbey (Photo: Dok. Pribadi)

Setelah Yesus wafat, Bunda Maria yang telah tua tinggal bersama Yohanes bin Zebedeus.  Menurut cerita tutur, pada suatu pagi Maria tidak keluar dari kamar-Nya, para murid mengira Maria masih tidur.  Ketika jam makan siang Maria belum juga keluar dari kamar, murid yang diutus untuk membangunkan mendapati Maria sudah meninggal.  Pada pukul 4 sore Yesus datang dan mengangkat tubuh ibu-Nya naik ke surga.

Pada jaman Perang Salib gereja ini direnovasi, dengan menambahkan sebuah biara yang diserahkan kepada Ordo Sta. Benediktin. Pada tahun 1187 biara dan gereja bagian atas dihancurkan oleh tentara Saladin, tetapi bagian bawah dibiarkan karena orang-orang Islam juga menghormati Bunda Maria. Gereja ini berpindah tangan beberapa kali dan sekarang Gereja Ortodox dan Gereja Katolik yang menempatinya.

Kisah-kisah saleh mempopulerkan istilah “tertidur,” merenungkan bahwa Maria diakhir hidupnya “tertidur” dan kemudian diangkat ke dalam kemuliaan surga. Kaisar Byzantine Mauritius (582-602) menetapkan perayaan Tertidurnya Santa Perawan Maria pada tanggal 15 Agustus bagi Gereja Timur demi memperingati wafat dan diangkatnya Santa Perawan Maria ke surga. (Sebagian ahli sejarah menyatakan bahwa perayaan ini telah tersebar luas sebelum Konsili Efesus pada tahun 431.) Pada akhir abad keenam, Gereja Barat juga merayakannya dengan nama SP Maria Diangkat ke Surga.

Entah kita mempergunakan istilah “tertidur” atau “diangkat ke surga,” keyakinan dasarnya tetap sama. Katekismus, dengan mengutip Liturgi Byzantine, memaklumkan, “Terangkatnya Perawan tersuci adalah satu keikutsertaan yang istimewa pada kebangkitan Putranya dan satu antisipasi dari kebangkitan warga-warga Kristen yang lain. `Pada waktu persalinan engkau tetap mempertahankan keperawananmu, pada waktu meninggal, engkau tidak meninggalkan dunia ini, ya Bunda Allah. Engkau telah kembali ke sumber kehidupan, engkau yang telah menerima Allah yang hidup dan yang akan membebaskan jiwa-jiwa kami dari kematian dengan doa-doamu’” (No 966).

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga memberikan kepada masing-masing kita pengharapan besar sementara kita merenungkan satu sisi ini dari Bunda Maria. Maria menggerakkan kita dengan teladan dan doa agar bertumbuh dalam rahmat Tuhan, agar berserah pada kehendak-Nya, agar mengubah hidup kita melalui kurban dan penitensi, dan mencari persatuan abadi dalam kerajaan surga. Pada tahun 1973, Konferensi Waligereja Katolik dalam surat “Lihatlah Bundamu” memaklumkan, “Kristus telah bangkit dari mati; kita tidak membutuhkan kepastian lebih lanjut akan iman kita ini. Maria diangkat ke surga lebih merupakan suatu pengingat bagi Gereja bahwa Tuhan kita menghendaki agar mereka semua yang telah diberikan Bapa kepada-Nya dibangkitkan bersama-Nya. Dalam Maria diangkat ke dalam kemuliaan, ke dalam persatuan dengan Kristus, Gereja melihat dirinya menjawab undangan dari Mempelai surgawi.”

@ Abbey of the Dormation

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here