Penyesalan yang Menyelamatkan

170

Sobat katolikzone yang terkasih,

Ada satu ungkapan yang sudah sering kita dengar bahkan mungkin bosan, yaitu “penyesalan selalu datang terlambat”. Memang benar, penyesalan selalu muncul di bagian akhir “cerita”, ketika keputusan yang kita pilih, proses yang dijalani atau hasil yang kita terima tidak sesuai harapan. Kita semua pasti pernah mengalami penyesalan dalam hal apapun, dan bahkan berulang kali. Kadang ingin memperbaiki untuk ke depannya, namun tidak jarang malah kembali jatuh di lubang yang sama. Harus diakui juga bahwa kita bukanlah pengambil keputusan yang handal. Entah itu terburu-buru atau tidak, seringkali kita selalu merasa kurang puas dengan keputusan yang kita ambil. Namun, harus kita akui juga bahwa meskipun datangnya terlambat, penyesalan membantu kita untuk belajar dan berubah ke arah yang lebih baik.

Bacaan Injil hari ini (Mat 21:28-32), mengisahkan perumpamaan tentang dua anak yang diminta melakukan pekerjaan oleh sang ayah. Si anak pertama menjawab bapanya dengan sangat sopan: “Baik, Bapa.” Tetapi ia tidak pergi bekerja. Ketaatannya hanya tampak dalam perkataan, bukan perbuatan. Sudah sejak awal Yesus mengingatkan pendengar/pembaca bahwa “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga” ( Mat 7:21).

Anak yang kedua menjawab dengan tegas: “tidak mau!” Tetapi kemudian ia menyesal dan pergi bekerja di kebun anggur. Dia menyadari bahwa keputusan yang dia pilih salah, karena ada kebaikan dalam permintaan sang ayah. Jelas, anak kedua inilah yang melaksanakan kehendak bapanya. Dia simbol dari semua anak Allah yang taat. Mereka percaya akan Kerajaan Allah yang dihadirkan Yesus dan dipersiapkan oleh Yohanes Pembaptis. Mereka percaya akan Bapa yang maha-baik, yang menghargai kebebasan anak-anak-Nya untuk juga mengatakan “tidak”. Dialah Bapa yang senantiasa sabar terhadap anak-Nya yang memberontak. Dialah Bapa yang selalu memberikan kesempatan bagi anak-anaknya untuk menyesal dan bertobat. Bapa yang juga menghargai anak yang melawan dan memberontak, sebab itu titik-tolak untuk pulang dan bertobat.

Dalam kisah anak yang kedua, kita sebenarnya mau disadarkan bahwa “hati manusia itu lamban dan keras”, sehingga Allah harus memberi hati yang baru (KGK. 1432). Pertobatan itu pertama-tama adalah karya rahmat Allah yang memberi kekuatan untuk mulai baru. Jika hati kita menemukan kebesaran dan cinta Allah, ia akan digoncangkan oleh penyesalan. Penyesalan mendapat tempat utama dalam kegiatan peniten/pertobatan. Dikatakan bahwa penyesalan muncul sebagai “kesedihan jiwa dan kejijikan terhadap dosa yang telah dilakukan, dihubungkan dengan niat, bahwa mulai sekarang tidak berdosa lagi” (KGK. 1451). Penyesalan yang sempurna adalah penyesalan yang berasal dari cinta kepada Allah, atau disebut juga “sesal karena cinta” (KGK. 1452).

Penyesalan akan dosa, terutama karena cinta kepada Allah, memberi Kembali kepada kita rahmat Allah dan menyatukan kita dengan Dia dalam persahabatan yang erat. Seperti para pemungut cukai dan para pelacur yang lebih dahulu masuk ke dalam Kerajaan Allah (Mat 21:31). Kita pun juga, oleh penyesalan yang sempurna dibawa pada perdamaian dengan Allah, yang mendatangkan kedamaian dan kegembiraan hati nurani, kekayaan kehidupan  sebagai anak-anak Allah, serta yang paling bernilai adalah persahabatan dengan Allah. Sehingga pada akhirnya, penyesalan yang sempurna, meskipun datangnya telat, namun menyelamatkan kita.

Salve!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here