Siapa Bilang Menikah di Gereja Katolik Ribet? Ini Prosedurnya, Perhatikan ya!!

590

Siapa Bilang Menikah di Gereja Katolik Ribet? Ini Prosedurnya, Perhatikan ya,  Katolikzone.com – Tulisan ini adalah kiriman dari salah satu kenalan Tim katolikzone.com

katolikzone.com
Wawan, Penyuluh Agama Katolik di Kantor Kementerian Agama Kab. Asahan Kanwil Sumatera Utara (Foto: Dok. Pribadi)

Teman kita ini bernama: Alb Irawan Dwiatmaja, biasa dipanggil Wawan. Lulusan Fakultas Filsafat Universitas Katolik St. Thomas Sumatera Utara. Sejak Agustus 2017, menjadi Mahasiswa Program Magister Filsafat Keilahian Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Saat ini bertugas sebagai Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kab. Asahan Kanwil Sumatera Utara.

Suatu kali, seorang teman lama tiba-tiba men-dm saya via WhatsApp. Dia meminta waktuku untuk menanyakan beberapa hal terkait prosedur perkawinan dalam Gereja Katolik. Pertanyaannya demikian, “Ito, saya ingin menikah dengan seorang pria non-Katolik (Gereja Protestan). Bagaimana prosedurnya? Apakah dia harus menjadi Katolik dulu baru bisa menikah? Seandainya demikian, berapa lama masa yang harus dijalaninya? Saya harus menghadap ke siapa ito? Pastor Paroki asal atau pastor paroki tempat domisili saya sekarang? Soalnya saya perantau.” Jawabku, “Oke ito. Mari kita lihat satu per satu duduk masalahnya ya ito.”

Perspektif Gereja Katolik:

Pembahasan tentang hukum perkawinan berawal dari Kitab Hukum Kanonik (KHK) 1983 kanon 1055:

  1. Perjanjian perkawinan, dengan mana pria dan perempuan membentuk antar mereka kebersamaan seluruh hidup, dari sifat kodratinya terarah pada kesejahteraan suami-istri serta pada kelahiran dan pendidikan anak; oleh Kristus Tuhan perkawinan antara orang-orang yang dibaptis diangkat ke martabat sakramen.
  2. Karena itu antara orang-orang yang dibaptis tidak dapat ada kontrak perkawinan sah yang tidak dengan sendirinya merupakan sakramen.

Berangkat dari kanon di atas, ada beberapa tipe/jenis perkawinan dalam Gereja Katolik:

  1. PERKAWINAN SAH ANTARA DUA ORANG YANG SUDAH DIBAPTIS (Katolik-Katolik) ADALAH SAKRAMEN

Sakramen secara umum berarti tanda dan sarana penyelamatan Tuhan. Melalui perkawinan, Tuhan mewujudkan kasih dan menjadikannya sarana penyelamatan. Jadi melalui perkawinan, pasangan suami-isteri dipanggil untuk saling membahagiakan dan menyempurnakan diri di hadapan Tuhan. Maka tidak boleh hanya bahagia tanpa menghiraukan bimbingan Tuhan; atau menderita terus karena merasa mengikuti bimbingan Tuhan. Dalam perkawinan tentu ada tantangan dan membutuhkan perjuangan serta pengorbanan. Semua usaha bersama ini dengan berkat Tuhan membuahkan kebahagiaan dan keselamatan.

Sangatlah penting untuk berusaha terus-menerus agar Tuhan hadir di tengah-tengah keluarga. Setiap hari perlulah mengucap syukur dan mohon berkat agar kasih mereka terus terpelihara dan tumbuh dengan baik. Jangan hanya datang kepada Tuhan pada saat mengalami kesulitan.

2. PERKAWINAN CAMPUR

Yang dimaksud dengan perkawinan campur di sini adalah perkawinan campur agama, yaitu: antara seorang yang dibaptis Katolik dan seorang yang tidak Katolik (bisa orang yang dibaptis di Gereja Protestan, maupun orang yang tidak dibaptis).

Gereja Katolik memberi kemungkinan untuk perkawinan campur karena membela dua hak asasi, yaitu: hak untuk menikah dan hak untuk memilih agama sesuai dengan hati nuraninya. Keyakinan Gereja bahwa perkawinan antara 2 orang yang dibaptis adalah sakramen pada satu pihak, dan dimungkinkannya perkawinan campur pada lain pihak, tidak boleh diartikan bahwa: seakan-akan ada perkawinan kelas 1 dan perkawinan kelas 2. Perkawinan yang sudah diteguhkan secara sah dan dimohonkan berkat dari Tuhan (asal dilakukan dalam Gereja Katolik atau dilaksanakan secara Katolik), semuanya berkenan di hadapan Tuhan. Semuanya dipanggil untuk memberikan kesaksian akan kasih Kristus kepada manusia.

Dua Jenis Perkawinan Campur:

– Perkawinan Campur Beda Gereja (Disparitas Cultus): seorang yang baptis Katolik dengan seorang yang baptis non-Katolik (HKBP, GKPI, GBKP, dll). Untuk sahnya perkawinan ini dibutuhkan ijin.

– Perkawinan Campur Beda Agama (Mixta Religio): seorang yang baptis Katolik dengan seorang yang tidak dibaptis (Buddha, Hindu, Konghucu, Islam). Untuk sahnya dibutuhkan dispensasi.

Nah, kita dapat mengatakan bahwa untuk kasus teman saya di atas, si pria tidak usah menjadi Katolik terlebih dahulu untuk bisa menikah. Mereka dapat menikah dengan jenis pernikahannya: perkawinan campur beda Gereja (Disparitas Cultus). Tentunya, mereka tidak boleh lupa untuk meminta izin kepada ordinaris wilayah (bisa saja Uskup/Vikep/pastor paroki, tergantung kebijakan di setiap keuskupan). Tetapi, sebelum sampai ke sana, ada beberapa tahap yang harus mereka jalani.

Perlu diingat juga kepada mereka yang merantau, hendaklah atau wajiblah melapor kepada pastor paroki tempat Anda domisili. Juga, jangan lupa untuk melapor ke lingkungan tempat Anda berdomisili supaya mereka mengenal Anda dan wajib aktif dalam kegiatan lingkungan/wilayah/kring dan menggereja supaya Anda dikenal sebagai umat Katolik. Biasanya, ini kecenderungan buruk para perantau yaitu mereka lupa atau bahkan tidak melaporkan keberadaannya pada pastor paroki tempat domisili dan ketua lingkungan/wilayah/kring. Jadi, hal ini harus menjadi perhatian bagi para perantau!

Nah, tahap selanjutnya yang harus dilakukan yaitu:

  1. Daftarkan diri dan pasanganmu untuk ikut Kursus Persiapan Pernikahan

Pernikahan secara Katolik harus dimulai dengan mengikuti kursus pernikahan. Biasanya diikuti minimal 6 bulan sebelum pemberkatan pernikahan. Hal yang kamu harus lakukan adalah datang ke salah satu Gereja Katolik dengan membawa:

a). Surat pengantar dari lingkungan masing-masing. Apabila kamu berasal dari paroki Gereja Katolik A dan pasangan kamu berasal dari Paroki Gereja Katolik yang berbeda, maka kamu harus meminta surat pengantar dari Paroki Gereja masing-masing.

b). Fotokopi Surat Baptis terbaru (masa berlaku paling lama 6 bulan). Tidak usah bingung cara mendapatkan surat baptis terbaru, cukup hubungi pastor paroki tempat kamu dibaptis dan jelaskan maksud kamu.

c). Fotokopi Akte Kelahiran. Syarat ini tergantung dari kebijakan setiap paroki.

d). Fotokopi KTP calon pengantin.

e). Pas photo berdampingan 4×6 sebanyak 4 lembar (pria harus di sebelah kanan ya).

Petugas gereja akan mencarikan jadwal kursus yang masih available. Setelah mendapatkan jadwal dan lokasi kursus, kamu harus membayarkan biaya pendaftaran yang biasanya berdasarkan kebijakan masing-masing gereja.

  1. Mengikuti kursus persiapan pernikahan bersama pasangan
  2. Mendaftarkan diri untuk penyelidikan Kanonik

Langkah selanjutnya setelah kamu mengikuti kursus adalah pendaftaran diri untuk Penyelidikan Kanonik. Jangan takut dengan kata penyelidikan, karena ini hanya berupa wawancara dengan pastor/romo mengenai kesiapan kedua calon pengantin untuk memasuki tahap pernikahan yang sesungguhnya. Biasanya pastor/romo akan bertanya mengenai kesiapan batin dan mental masing-masing pasangan dalam memasuki kehidupan rumah tangga.

Oh ya, beberapa catatan yang harus diperhatikan:

Untuk kamu yang memiliki pasangan non-Katolik, kamu harus menyediakan 2 saksi pada saat penyelidikan Kanonik. Saksi tersebut harus benar-benar mengenal calon pengantin non-Katolik agar bisa menjelaskan bahwa orang tersebut belum pernah menikah dan tidak sedang terkena halangan menikah atau halangan-halangan pernikahan lainnya.

Untuk pasangan yang sama-sama beragama Katolik, maka Kursus Persiapan Pernikahan dan Penyelidikan Kanonik akan mengikuti paroki calon pengantin wanita. Akan tetapi, jika kedua mempelai ingin diberkati di Gereja yang bukan asal dari masing-masing, maka dibutuhkan surat pengantar dari Pastor Paroki setempat agar bisa “numpang” nikah di gereja yang dipilih.

Semoga membantu ya. Berkah Dalem.

(Tulisan ini dirangkum dari Kitab Hukum Kanonik 1983, https://paroki-blokb.org/)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here